Benchmark ke Tiga Desa Wisata di Provinsi DIY dengan Tim Riset Hibah LPDP UGJ, Pemdes Sarwadadi: Kami akan Adopsi dan Modifikasi

Cirebon sebagai metropolitan budaya saat ini sudah menjadi tujuan destinasi wisata. Didukung oleh Pemerintah Daerah melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Nomor: 556/Kep.429-DISBUDPAR/2022 tentang Penetapan Desa Wisata di Kabupaten Cirebon.

Desa Sarwadadi yang merupakan salah satu Desa Wisata baru di Kabupatten Cirebon mengadopsi konsep CBT (Community Based Tourism) dari hasil benchmarking di tiga desa wisata yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Sarwadadi memiliki jarak tempuh sekitar 10 KM dari pusat Kota Cirebon atau sekitar 30 menit perjalanan menggunakan mobil.

Nur Cipta selaku perwakilan Desa Sarwadadi yang ikut dalam benchmarking menerangkan bahwa kegiatan tersebut sangat menginsirasi dengan melihat-lihat embung dan belajar disana kemudian kami bisa terapkan di Desa Sarwadadi yang notabene mempunyai embung seperti yang ada di Desa Wisata Nglanggeran dan Desa Wisata Banjaroya. Konsep wisatanya ingin mengadopsi dari Desa Wisata tersebut. Terkait hal-hal dan prasarana embung yang kami punya, kami masih banyak-banyak belajar dan ingin mendatangkan investor dan stake holder yang bisa meningkatkan dan mengembangkan embung yang ada di Desa Wisata Sarwadadi.  “Pihak-pihak terkait, seperti UGJ kami menyampaikan terimakasih karena sudah membantu dalam hal membuka mata kami bahwa wisata embung yang ada di Desa Sarwadadi itu perlu dikembangkan,” terang Nur.

“Koordinator Tim Riset Hibah LPDP UGJ dan Dosen Periset, Dedi Muhammad Siddiq,PhD menyampaikan bahwa diadakannya benchmarking untuk melakukan sebuah pemodelan terhadap side lokasi dimana pengelolaan embung itu sudah demikian berkembang, sudah maju dan sudah berdampak secara konkrit terhadap perekonomian masyarakat disana. Modeling ini penting untuk menjadi acuan yang bisa jadi dilakukan dan di adopsi untuk pengembangan Desa Wisata Sarwadadi yang secara georafis mempunyai kesamaan, yakni sama-sama di dataran tinggi dan mempunyai sebuah monumen embung,” Ungkap Dedi.

Desa Wisata Nglanggeran yang merupakan salah satu Desa Wisata terbaik ASEAN tahun 2017 menjadi salah satu destinasi wisatawan lokal dan mancanegara ketika berkunjung ke Kabupeten Gunung Kidul. Sugeng Handoko salah satu penggerak Desa Wisata Nglanggeran menerangkan bahwa pada Tahun 2021 Desa Wisata Nglanggeran menjadi salah satu desa wisata mandiri inspiratif pada program Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diselenggarakan oleh Kemenpar. Terang Sugeng.

Selain Desa Wisata Nglanggeran yang mempunyai embung, ada 2 desa/kelurahan lain yakni Desa Wisata Banjaroya yang mempunyai pariwisata embung dengan ciri khas UMKM yang memproduksi coklatnya dan Kelurahan Klitren dengan embung langensari yang menjadi tempat sarana olahraga dan menghidupkan UMKM masyarakat sekitar yang berjualan di sekitar embung.